Ingin atau Butuh?

Saya dulu tergila-gila dengan buku, sampai sekarang sih. Meski belum bisa menyaingi perpustakaan, tumpukan dan deretan buku di rumah cukup banyak. Bahkan, suami terkadang gerah melihat banyaknya buku saya. Perlu dicatat, bahwa sebagian besar dari buku-buku tersebut saya beli saat masih single dan banyak yang belum dibaca, ngenes. Selama ini, sudah berkali-kali koleksi tersebut disortir untuk dijual atau dihibahkan, tapi rasa-rasanya jumlah masih tetap saja banyak. Saya jadi berpikir, mungkin dihitung-hitung nilainya bisa berjut-jut.

Sedikit menengok ke masa lalu, saat masih menjadi pekerja di dunia konsultan, Bandung, masa gajian adalah waktu dimana saya menghambur-hamburkan uang untuk belanja buku. Jangan ditanya, besok akan makan apa, tapi tanya, hari ini beli buku apa. Lebih dari setengah gaji saya per bulan, bisa ludes hanya untuk beli buku, online maupun offline. Menumpuk…menumpuk…dan menumpuk. Kata hati, “Beli dulu baru baca,” benar-benar melekat dalam kepala, sehingga tumpukan buku pun semakin menjulang. Ibu kos saat itu sampai geleng-geleng kepala melihat kamar saya yang penuh dengan buku.

Saat saya memutuskan keluar kerja, dan harus kembali ke Malang, packing buku yang paling menghabiskan jatah kardus, 6:1, dengan kardus yang berisikan baju dan peralatan sehari-hari. Begitu sampai rumah, giliran Umi yang bengong melihat banyaknya buku. Saat awal-awal menikah pun, saya masih hobi belanja buku, terutama online, dan kamar semakin penuh dengan buku. Saking seringnya saya mendapat kiriman buku, sampai Pak RT “curiga” hahaha. Ketika mengingat kegilaan saya dulu dalam berbelanja buku, muncul pertanyaan, apakah buku-buku tersebut terbaca sampai saat ini? Iya, tapi hanya sebagian kecil, sedangkan sisanya yang menggunung tidak terbaca. Akhirnya, banyak buku yang kemudian dijual atau dihibahkan, nilai jualnya pun menurun karena sudah bekas atau menjamur.

Ingin atau Butuh? Kalau ditelusuri lagi, kegilaanku dalam belanja buku dahulu memang didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan. Keinginan biasanya berumur lebih pendek dibandingkan kebutuhan. Ingin beli karena mumpung lagi obral, ingin beli karena sedang ramai diperbincangkan, ingin beli karena sudah terlanjur masuk toko buku padahal ya sengaja, atau ingin-ingin lain yang kurang jelas. Padahal dalam hal perencanaan keuangan, membeli sesuatu haruslah didasari oleh kebutuhan. Membeli karena keinginan, potensi tidak bermanfaat, bagi pembelinya, lebih besar terjadi.

Penyesalan selalu datang terlambat, tapi belajar dari masa lalu wajib hukumnya. Meski saat ini, aktivitas saya berhubungan dengan jual beli buku, hasrat untuk membeli tidak seganas dahulu. Hanya jika melihat buku bertema pendidikan anak diobral, kegilaan saya suka kumat :p