Rumah Mandi?

Tingkah Anak

Kejadian saat silaturahmi ke rumah Mbak Vivi. Melihat Kak Aisyah, anak sulung Mbak Vivi dan Ale, dan Miza yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing

Saya (S): Kak Aisyah, sedang apa?

Kak Aisyah (KS): sapu

S: wah, biar rumahnya bersih ya?

KS: iya, biar rumah gak berantakan

S: *beralih ke Miza* Miza ngapain semprot-semprot?

Miza (M): besi-besi

S: Kok bersih-bersih?

M: (R)umah mandi, biaIr) be(r)si(h) *terus semprot2 tembok*

S: ooo #speechless

 

#Miza (3y 6m)

Pamer Paras

Bukan merasa sudah paling benar dalam berpakaian. Bukan pula karena ilmu agama yang sudah tinggi. Hanya saja, saya gemas melihat foto-foto yang memamerkan paras dan lekuk tubuh, terutama di sosial media. Kalau sebagian ada yang bilang saya iri, ya silakan.

Sedikit menengok KBBI online, definisi pamer adalah,

Menunjukkan (mendemonstrasikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri

Nah, Pertanyaan yang kerap muncul saat melihat demonstrasi foto-foto tersebut, “terpikir tak di kepala bahwa apa yang dipamer/sombongkannya adalah SEMU, yang sewaktu-waktu bisa diambil Sang Empunya?”

Semu karena bersifat SEMENTARA.

Semu karena SANGAT MUDAH HANCUR.

Bayangkan, bila tiba-tiba terpeleset, wajah yang katanya cakep, kepentok lantai, jadi lebam, bibir dower (masih cakep?), Atau karena salah langkah, tubuh yang katanya indah, tertabrak, tangan patah, tulang bengkok (masih molek?)

Bukannya ingin mendoakan, tapi hanya sekadar menunjukkan bahwa paras dan tubuh adalah sesuatu yang semu dan tidak patut dipamerkan, bahkan sewaktu-waktu dapat hilang dari ‘genggaman’.

Perlu dicatat, bahwa contoh di atas hanyalah ‘kehancuran’ kecil, karena kehancuran yang PASTI akan terjadi pada setiap manusia adalah ketika paras dan tubuh terpendam tanah, HANCUR DAN HABIS dimakan belatung.

Jadi, pantaskan paras dan tubuh menjadi sesuatu yang dipamer/sombongkan?!