Nak, Mari Kita Berdamai!

Selesai membaca salah satu kisah Mbak Vida [nama panggilan Robiah Al-Adawiyah] dalam bukunya yang berjudul Bukan Sepasang Malaikat, saya diajak merenung. Sungguh, kisah yang berjudul “Nak, Mari Kita Berdamai!” memperlihatkan kasus yang banyak menimpa Ibu-anak, bahkan bisa juga menimpa sang ayah. Ketika masih kecil pun permasalahan dalam kisah tersebut juga menimpa saya dan Ummi. Bisa disimpulkan bahwa cerita ini memuat kasus klasik yang sering terjadi dalam sebuah keluarga. Menghadapi anak-anak usia produktif bukanlah perkara mudah, karena bisa jadi penyikapan kita ketika berhadapan dengan mereka akan mempengaruhi karakter mereka di kemudian hari.

Atas ijin Mbak Vida, saya copy-paste salah satu dari sekian banyak artikel yang inspiratif, buku terbitan Afra Publishing.

Review buku ini bisa dilihat di http://timbunanresensi.wordpress.com/2012/10/10/bukan-sepasang-malaikat/

***

Nak, Mari Kita Berdamai!

Hari ini adalah hari yang melelahkan. Dan saya yakin kemarin, besok, lusa, dan seterusnya akan begini. Anak-anak kita akan selalu mempunyai potensi konflik dengan kita. Hmm… tentu saja sesuai dengan fase bertumbuh dan berkembang mereka. Saya baru saja memutuskan berdamai dengan anak saya setelah beberapa jam yang lalu ia benar-benar keras kepala.

Bagaimana tidak? Sepulang sekolah, ia terus-menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan– satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang saya tulis sebelumnya, saya belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri.

Akhirnya saya memilih diam sejenak. Saya pandangi sulung saya yang merajuk karena permintaannya yang ke sekian kali pada siang itu tidak saya turuti. Kali ini ia meminta saya membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil, ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang entah kemana. Segala argumen saya hiburkan, saya minta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tida berhasil. Mulailah ia mengamuk dan mengatakan, “Ummi jahat!” dan seterusnya.

Menurut teori yang saya baca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya.

“Nak … sini, Nak, Ummi tahu kamu kecewa,” akhirnya itu kalimat pertama yang saya ucapkan setelah menghela nafas. Sulung saya masih merajuk.

“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Aku juga nggak punya pensil warna,” rajuk anak saya panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya, saya mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!

“Ya, sudah. Sekarang Maura ganti baju dulu, pipis, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu, ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Ummi insyaAllah akan belikan. Tapi, kita cari dulu crayonmu yang lama,” beringsut, sulung saya mengangkat tangannya ke atas, bersiap melepas seragamnya dan seterusnya pergi ke kamar mandi, pipis, minum air putih.

Saya benar-benar membantu mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan karena memang crayon karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer ke sana kemari. Saya pun sadar akan membelikan pensil warna baru di toko sebelah. Sebab, memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi, belum sekarang waktunya.

Saya bantu putri sulung saya mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, saya menetralkan perasaannya.

“Sudah, Nak? Sudah nggak marah, kan? Bersyukur, ya Nak, hadiah buku dari Bunda, kan sudah bagus. Malah Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putri saya mengangguk pelan. Bagus, marahnya mereda.

“Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi, aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini. Kan, ndak banyak warnanya.”

Baiklah. Saya sudah berdamai dengannya. Kemarahan yang luar biasa bisa saya redam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, juga frustasi. Saya tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelah saya beradu dengan lelahnya, batas kesabaran saya beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya, itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.

Siang ini, setidaknya saya ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang, kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah, segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti. Namun, ia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.

Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah saya berikan reward (penghargaan) padanya berupa sekotak pensil warna yang memang tidak mahal. Hehehe… Saya rendahkan tubuh saya, lalu saya bisikkan padanya, ” Ini untuk anak Ummi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya. Hehehe…”

Siang itu, saya berdamai dengan si sulung. Meskipun akan ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus saya hadapi.

Ishbir (sabar), ya Ummi!

2 thoughts on “Nak, Mari Kita Berdamai!

  1. ayanapunya says:

    tetangga belakang rumahku kan masing-masing punya anak bayi. dan aku suka banget sama tetangga tengah yang kebetulan masih keluarga. dia sabar banget ngadepin anaknya yang tergolong pintar. dan kayaknya karena pengaruh ibu yang sabar itu juga anaknya jadi pintar kayak gitu. intinya sih, harus belajar sabar dari sekarang biar bisa jadi ibu yang sabar..hehe

    • Sinta says:

      hihihi…iya, sabar dan telaten. Aku kadang masih suka emosi dengan Miza, terutama kalau lagi makan terus dilepeh2, duh, bawaannya pengen marahπŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s