Batasi Pembelian Buku

Hampir selama dua tahunan menikah, saya belum pernah dibatasi untuk pembelian buku. Akibatnya, setiap bulan saya menjadi gila-gilaan saat berbelanja buku. Kalau yang pernah menonton film Shopaholic, saya bisa bilang, kurang lebih kebiasaan saya mirip dengan Becky [tokoh dalam shopaholic], hanya bedanya, produk pembelian saya adalah buku. Sampai sekarang, dua lemari buku saya sudah tidak muat menampung semua buku. Ditambah, koleksi yang masih ada di Malang, rumah orangtua saya.

Koleksi Pribadi

Banyaknya buku-buku bagus yang diterbitkan; seringnya acara diskon/obral buku, dan makin ramainya toko buku online, sering membuat saya gelap mata, yang tidak jarang tabungan jebol jadi akibatnya. Padahal, di sisi lain, waktu luang saya pun mulai menyusut dengan kehadiran anak yang membutuhkan perhatian ekstra, maka semakin bertumpuklah buku yang menunggu untuk dibaca. Sering terpikir, untuk menjual/memberikan buku-buku tersebut, tapi keinginan untuk membaca buku tersebut terlalu besar, dan saya seringkali baru bisa menjual/memberikan buku-buku tersebut setelah selesai dibaca.

Dikarenakan si Abi terlalu baik hati dan tidak pernah tega membatasi pembelian buku, jadi harus saya yang ‘ambil tindakan’. Akhirnya, setelah menimbang, salah satu solusi adalah membatasi belanja buku, untuk menghentikan sepertinya agak susah. Saya mengajukan nilai MAXIMAL Rp. 300.000 untuk pembelian buku selama sebulan, sempat ditawar juga sih, tapi sambil memasang tampang melas dan pemaksaan, akhirnya nilai tersebut disetujui. Mungkin sebagian orang memandang nominal tersebut masih tergolong besar, tapi sebelum-sebelumnya nilai tersebut ‘hanya’ sepertiga/seperempat yang biasa saya keluarkan setiap bulannya saat membeli buku. Bagaimana tidak semakin tinggi tumpukan buku di rumah, ya?!!

Kenapa Rp. 300.000? Saya berpikir, membandingkan nominal itu dengan rata-rata harga buku saat ini, minimal saya bisa mendapat 4-5 buku setiap bulannya. Jumlah tersebut tergolong setengah dari bacaan per bulan saya saat sedang longgar, kalau pun sedang sibuk, insyaALLAH 4-5 buku dapat saya selesai dalam sebulan. Target saya mulai bulan depan, harus bisa menyelesaikan 10 buku/bulan supaya tumpukan buku semakin berkurang, tidak harus terpenuhi sih tapi saya harap bisa menjadi semacam motivasi. Dan untuk melonggarkan isi lemari, mungkin buku-buku yang telah saya baca akan dijual/ dibagikan lewat kuis-kuis yang kadang saya adakan di blog.

Doaku:: Semoga ke depan saya bisa membeli buku, sesuai dengan kebutuhan🙂

19 thoughts on “Batasi Pembelian Buku

      • ayanapunya says:

        aku baru rajin beli buku setelah kerja aja sih. itu juga sekarang lemarinya udah mulai nggak muat. dan untungnya di sini ada rental buku. jadi nggak terlalu sering beli buku

      • Sinta Nisfuanna says:

        sama sih, aku keranjingan beli buku pas udah kerja. Mungkin semacam balas dendam pas kuliah cuman bisa ngiler liat buku bagus, tapi jadinya keterusan –“

  1. redini says:

    mbak sinta, salam kenal ya. hebat ya bisa nargetin baca buku 4-5 buah sebulan. saya juga hobi baca, tapi paling bisa 2 aja. waktunya yg ga ada! dan itu tumpukan buku2 bikin ngiler deh.

    • Sinta Nisfuanna says:

      hihihi…. sementara ini masih bisa nargetin 4-5 buku mbk, gak tau kalau nanti anaknya nambah, bisa 1-2 buku juga😀

      Pengen seterusnya tetep giat membaca🙂

      • Sinta Nisfuanna says:

        Saya malah jarang baca koran😀

        Pengennya suatu saat bisa punya waktu untuk baca ulang buku lama, tanpa diuber2 tumpukan utang buku Mbak

      • redini says:

        Pertanyaan dr saya ni: kalo baca buku dengan target sebanyak itu, bisa dapat ilmu dari tiap buku ga?
        khan rugi banget beli buku mahal tapi ga dapat ilmu-nya. maaf ya nanyanya ga enak gini

      • Sinta Nisfuanna says:

        hehehe… iya, gpp mbk. Pertanyaannya lumayan menohok😛

        sejauh ini, setiap kali selesai membaca, saya membuat semacam review. Dari aktivitas memutar ulang ingatan sepanjang membaca dan menuliskan kesannya, saya dapet menyaring pelajaran di dalamnya setiap bacaan😀

      • yantist says:

        mbak, kemarin ada mbak Sinta ngasih link ke ka Antung (ayanapunya) ttg tulisan ga perlu tll byk aturan or mikir kalau ngereview buku, masih ada ga mbak nyimpan linknya? Sy lupa kmrn mbak Sinta komen di postingan yg mana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s