Anak Harus Berani Berkata “Tidak”

“Miza hilang,” kata suami. Saya yang sedang rebahan kaget, kemudian suami keluar lagi.

“Koq bisa?” batinku. Tak lama, ibu mertua berseru dari luar, “Miza sudah pulang, Sin?” Lho! “Belum, Bu.”

Segera kukenakan kerudung dan melangkah keluar. Pikiran buruk sudah mulai berseliweran mengingat banyak sekali kasus penculikan dan penjualan bayi/anak-anak terutama di Jakarta, apalagi Miza masih berumur 2 tahun. Alhamdulillah, tidak lama muncul Miza bersama sepupunya, Abizah, yang rautnya kelihatan riang. “Ternyata Miza dan Abizah ngejar kucing sampai jalanan depan, Sin.” kata Mbak Yuyun, kakak ipar yang menemukan dua bocah ini lagi di pinggir jalan. Hadeuh!

Alhamdulillah, Miza dan Abizah masih dilindungi. Kejadian ini menjadi pengingat kami supaya lebih awas dengan Miza yang sudah sangat aktif dan tidak bisa diam di rumah. Di sela-sela kekhawatiran tadi, saya jadi teringat dengan sebuah obrolan di Coffee Break di TV One, bertemakan tentang pelecehan/penculikan pada anak-anak/remaja. Pembahasannya masih hangat di kepala karena baru ditayangkan kemarin [20/3]. Salah satu yang cukup membekas dalam benak saya, adalah masukan Aris Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak, bahwa mental anak harus diajarkan untuk berani tidak kepada anak yang lebih besar atau orang dewasa.

Meski Miza masih belum fasih bicara, saya merasa sangat perlu untuk mencari referensi atau masukan untuk mengajarkan anak membangun sifat asertif [def:ย kemampuan untuk mengungkapkan pikiran atau pendapat, baik itu positif maupun negatif, tanpa merugikan diri sendiri ataupun orang lain] dan kemampuan untuk mengenali intuisinya. Jadilah, saya bongkar-bongkar isi google, mencari artikel yang sekiranya bisa memberikan pandangan buatku yang ilmunya masih sangat cethek dalam hal pendidikan anak.

Hasilnya, beberapa cara untuk membangun/meningkatkan sikap asertif dan mengenali intuisi pada anak, diantaranya,

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri. Meyakinkan anak bahwa dirinya adalah sosok yang istimewa dan memiliki kemampuan yang sama dengan teman-temannya atau orang lain. Mengajak anak untuk bermain outbound ternyata juga dapat membangun mental dan rasa percaya diri.
  2. Perbanyak bersosialisasi. Mengenal orang di sekitar bisa menumbuhkan keberanian dan pengenalan situasi pada anak. Saat bersosialisasi inilah orangtua bisa melihat bagaimana anak berperilaku dan bertindak dengan orang-orang di sekitarnya. Jika anak cenderung pemalu dan malas keluar rumah, tidak ada salahnya mengajak teman-temannya ke rumah.
  3. Mengajarkan mengenali situasi di sekitarnya. Sering mengajak anak untuk berada di berbagai tempat dan berkomunikasi dengan orang di sekitar. Kemudian, di lain waktu tanyakan apakah anak merasa nyaman berada di suatu tempat atau berdekatan dengan seseorang, atau mintalah anak untuk menilai tempat/ seseorang.
  4. Mengajarkan mengatakan tidak dan mengenali waktu/cara yang tepat. Rasa percaya dirilah yang berperan cukup besar dengan keberanian anak berkata TIDAK ketika anak merasa keberatan atau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan intuisi dan keyakinannya. Kemampuan tersebut, juga bisa dilihat, salah satunya, dari keberaniannya untuk mengambil kembali mainan yang direbut oleh temannya. Sampaikan juga cara yang baik untuk menyampaikan pendapat atau penolakannya.
  5. Komunikasi yang intens dengan orangtua. Sering meminta pendapat anak, cukup dimulaiย  dengan hal-hal yang sederhana, seperti ingin jalan-jalan ke mana, ingin bermain apa. Lewat dongeng/cerita, orangtua bisa menjalin komunikasi sekaligus memancing pendapat anak terhadap cerita/tokoh di dalamnya. Upayakan agar orangtua terbuka pada anak, sehingga mereka pun terpancing untuk banyak bercerita.
  6. Menghargai upaya anak. Hargailah setiap tindakan anak yang menunjukkan sifat asertif, seperti saat dia mengeluarkan pendapatnya. Berikan pujian saat dia menyampaikan pendapatnya dengan baik. Jangan langsung mengatakan salah ketika anak membicarakan isi kepala/pandangannya terhadap sesuatu.
  7. Teladan dari orangtua. Saat mengatakan pada anaknya untuk menyampaikan pendapatnya dengan baik, saat itupun orangtua harus menuturkannya dengan baik. Orangtua adalah sosok pertama yang akan diikuti sekaligus berpengaruh membentuk karakter pada anak, sehingga teladan yang baik, insyaALLAH akan membuat anak memiliki sifat dan sikap yang terpuji.

Tulisan ini saya kumpulkan dari beberapa arikel. Jadi, masih dibutuhkan masukan atau berbagi pengalaman dari orangtua yang mungkin pernah mengalami/mengajarkan anak untuk bertindak tegas. Bagi ilmu donk!

Sumber Gambar:

  1. http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/31/306/komunikasi_orang_tua__anak_12_gaya_populer_1
  2. http://memedalfayed.blogspot.com/2011/03/cara-membangun-kepercayaan-diri-pada.html

6 thoughts on “Anak Harus Berani Berkata “Tidak”

  1. nengwie says:

    Kalau disini, anak-anak yg sudah mulai mengerti, kira2 usia TK diberitau jika disapa oleh orang asing, harus lari atau tereak katanya… jauhi dan hindari orang asing yang mendekati.
    Dan ini selalu diulang2 sama guru mereka, Saya juga mengingatkan begitu, pokoknya siapapun yg tidak kamu kenal, dan ajak ngobrol..kamu harus lari atau menjauhi dan kalau ada gurunya, langsung lapor.

      • nengwie says:

        Pokoknya harus hati2 sekarang mah ya, ngga di Indo ngga disini juga.
        Kadang orangnyg niatnya jelek, suka bujuk2 rayu2 mau kasih ini itu, atau pura2 kenal dgn kita, sedini mungkin diajak ngobrol, pokoknya jangan pernah mau gitu, semoga anak2 kita selalu dalam lindungan-Nya ..aamiin.

      • Sinta Nisfuanna says:

        Aaamin Ya Rabb. Emang harus hati-hati, apalagi media rasanya gencar banget ngasih berita yang serem2 tentang anak-anak๐Ÿ˜ฅ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s