Aktivitas Baru, ‘Korban-in’ Keasyikan …

Sejak seminggu ini, resmi sudah saya menjadi editor freelance di sebuah penerbitan Indie. Sebenarnya, agak kaget saat mendapat tawaran tersebut, tapi juga antusias. Saya cukup lama vakum mengedit buku, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Selama vakum, aktivitas saya yang berhubungan dengan perbukuan, hanya berkisar membaca buku, membuat resensi, dan berjualan buku di Parcel Buku *uhuk! tetep ngiklan*

Saya benar-benar bersyukur, saat tawaran tersebut datang. Bukan hanya, karena saya menyukai dunia perbukuan, tapi juga ‘kedatangannya’ di saat yang tepat. Sejak Abi memutuskan resign dari pekerjaan, pemasukan tidak menentu. Namun, luar biasanya, kami tidak pernah dalam kondisi kekurangan. Selalu ada saja rezeki yang datang, memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, mulai dari hasil penjualan Parcel Buku, sampai Abi yang mendapatkan order cetak. Bahkan, kami sempat membeli etalase untuk berjualan pulsa. Subhanallah, bukti bahwa Allah pasti menjamin kehidupan hamba-Nya.

Dan, lebih tak disangka, bersamaan dengan saya mendapatkan tawaran menjadi freelancer, Abi juga diminta mengisi sebuah posisi di @SedekahHarian. Alhamdulillah! Jaminan rezeki-Mu menjadi bukti betapa rahmatnya Engkau pada hamba. Jika sebelumnya, kami lebih banyak ‘bersantai’ dan berada di rumah, sekarang aktivitas menjadi lebih padat. Tantangan mulai datang, terutama bagi saya, dalam hal membagi waktu. Kondisi yang sedang hamil, agak tidak memungkinkan untuk begadang, sedangkan ritme kerja termasuk cepat, bahkan SANGAT cepat.

Baru seminggu saya masuk, sudah dua naskah yang selesai dikerjakan, dengan ketebalan rata-rata 200-an halaman. Dari pengalaman sebelum-sebelumnya, naskah setebal itu, biasanya saya selesaikan, minimal membutuhkan waktu selama seminggu. Itupun hanya membenahi masalah typografi [kesalahan penulisan kata_read] dan EYD [Ejaan yang Disempurnakan] tanpa memperhatikan masalah akurasi dan sinkronisasi cerita. Tapi, dengan waktu hanya 3 hari-an, saya harus pandai-pandai membagi waktu supaya deadline terpenuhi. Sekarang, saya harus memiliki prioritas dalam melakukan aktivitas keseharian, yang sejauh ini lebih banyak berisikan keluarga, editing, dan berjualan online.

Efeknya, ada beberapa keasyikan yang harus ‘dikorbankan’ untuk sementara waktu, yaitu membaca buku, menulis blog, dan blogwalking. Sediiiiih pisan! Saya menjadi sangat menghargai jeda waktu antara naskah selesai dan yang akan ‘datang’, yang hanya berkisar setengah harian, untuk melakukan keasyikan yang sempat ‘terlantar’. Seperti sekarang, saya menumpahkan kerinduan menulis blog dan sekadar mampir ke blog-blog, meski tidak semuanya, dan berharap nanti malam, jelang tidur, bisa mengisinya dengan membacaย  After by Amy Efaw.

13 thoughts on “Aktivitas Baru, ‘Korban-in’ Keasyikan …

  1. lieshadie says:

    Pintu rejeki memang kita tak pernah tau darimana arah datangnya…

    Suka sekali dengan postingan ini…

    #aku kok jadi tertarik jadi tukang edit juga nih…hehehe…biar bisa kerja dari rumah๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s