Saat Menyapih Miza

Tulisan ini terinspirasi dari membaca pengalaman Mbak Jati [Rumah MbakJe] saat menyapih.

Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus.

Awalnya saya tidak mematok Miza harus berhenti menyusui pada usia berapa dan lebih memilih cara yang natural. Bahkan setelah tahu sedang hamil 2 bulan, saya tetap memutuskan untuk menyusui Miza yang saat itu berusia 1 tahun 8 bulan. Cuman selama sekitar 1-2 bulan kemudian, hasil cek kehamilan tidak pernah bagus, terutama berat badan dan tekanan darah yang selalu rendah. Padahal, sudah rajin minum susu hamil dan tablet penambah darah, mungkin karena riwayat kesehatan saya memang mempunyai tekanan darah rendah. Akhirnya, diputuskan untuk mulai menyapih Miza.

Banyak saran saya terima, seperti memberi/membaluri payudara dengan jamu atau sesuatu yang menakutkan, atau meminum jamu pahit supaya rasa ASI juga pahit. Saran meminum jamu sudah pasti saya singkirkan karena kondisi sedang hamil. Sedangkan untuk memoles payudara, saya kurang suka karena terkesan membuat anak menjadi takut atau ‘membenci’. Sekali waktu, saya menulis kegalauan *eaaa* menyapih via facebook. Seorang teman pun menyampaikan pengalamannya menyapih, tapi akan membutuhkan waktu lama, kesabaran yang tinggi, dan kerjasama yang baik dengan suami.

Cerita pengalaman menyapih itulah yang kemudian saya coba praktekkan pada Miza. Hasilnya mantap, tapi prosesnya luaaar biasaaa!

Sejak dimulai misi menyapih, porsi makan Miza ditambah supaya dia selalu merasa kenyang ditambah cemilan yang selalu tersedia. Air mineral atau susu kedelai mulai ditawarkan. Beruntung Miza menyukai susu kedelai. Tapi bukan berarti dengan tersedia berbagai macam makanan dan minuman si Miza melupakan ASI. Permintaan ASI masih terus muncul, tapi intensitasnya mulai dikurangi dan lebih banyak mengalihkan perhatiannya ke makanan atau cemilan.

Menyapih Miza di siang hari bisa dibilang lebih mudah karena aktivitas bermain dan adanya teman-teman yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi begitu tiba waktu malam, perjuangan yang lebih berat dimulai😀. Bagaimana tidak, Miza bisa menangis lamaaaaa, sampai muntah, saat permintaannya menyusu ditolak. Mengalah pun menjadi pilihan. Selang sebulan, saya dan Abi mulai bertambah ‘keras’ dalam menyapih karena pertimbangan kondisi janin. Diusahakan Miza berangkat tidur dalam kondisi kenyang. Meski begitu, permintaan menyusu masih tetap datang. Tapi, Abi dengan sigap mengajak Miza keluar kamar sembari menawarinya makanan atau air minum. Tak jarang, Abi dan Miza malam-malam keluar rumah, ngajakin Miza cari cicak atau kucing hehehe… Terkadang saya tidur terpisah dengan Miza, setiap kali menangis Abinya yang mengelus dan menidurkan Miza lagi.

Butuh waktu yang cukup lama melakukan proses menyapih seperti ini, sekitar 4-5 bulan kami melakoni aktivitas menyapih. Rasanya juga campur aduk, sedih, gak tega, serba salah, nangis, terutama saat Miza mulai menangis dengan wajah memelas. Selamat menyapih, saya menjadi lebih sering memeluk, mencium, dan beraktivitas bersama Miza. Saya tidak mau kalau proses ‘menolak’ memberi ASI dipandang Miza sebagai aktivitas memusuhinya. Alhamdulillah, sekarang Miza sudah benar-benar lepas dari ASI tapi sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak suka atau takut saat melihat payudara.

Selama aktivitas menyapih, saya benar-benar bersyukur dengan kesabaran dan dukungan Abi yang besar. Bisa jadi saya akan cepat menyerah kalau gak ada Abi yang membantu proses menyapih.

3 thoughts on “Saat Menyapih Miza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s