Rezeki Bukan Matematika

Beberapa waktu lalu, salah satu tetanggaku membuka warung kcil-kecilan, berisikan jajanan dan mainan. Dulunya si Ibu bekerja, tapi karena alasan yang saya juga tidak tahu, sepertinya sudah keluar kerja dan membuka warung kecil. Membuka warung jajanan bukan hal yang mudah jika lokasi tidak menguntungkan. Apalagi jika ditengok dari keuntungan yang didapat, agak sulit untuk dijadikan pemasukan sehari-hari. Masih ingat, saat dulu kami membuka warung Miza, yang jualannya lebih banyak dicemilin sendiri. Maklum, saat itu kami membuka warung untuk “bermain jual-jualan” dengan Miza. Jika perhitungan harga kulakan dan jual, keuntungan yang didapat amat sangat mepet.

Eits, tapi kalau memakai perhitungan realistis memang pesimis melihat perkembangan warung kecil-kecilan jika dibandingkan toko kelontong yang kulakannya dalam jumlah besar. Tapi, rezeki itu bukan matematika, yang hasil perhitungannya pasti. Ada ‘tangan’ Allah yang menyampaikan rezeki setiap makhluknya. Balik melihat orangtua saya yang memiliki enam orang anak, dengan gaji yang dulunya di bawah UMR. Ternyata bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga S1, saat inipun masih ada yang kuliah dan SMP kelas 3. Jika pakai jurus hitung-hitungan, saya yakin gaji yang didapat Abah tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak-anaknya. Tapi, ketika menengok bahwa rezeki bisa datang dari mana saja, dan tidak selalu berbentuk uang, Abah dan Ummi yakin bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana.

Sekali waktu, Abi pernah bercerita tentang suami-istri tua yang kesehariannya bekerja di sebuah rumah orang kaya. Tak disangka, dengan gaji keduanya sebesar 600.000 ternyata mereka mendonasikan setengahnya. Bahkan termasuk donatur sebuah lembaga zakat, ‘sejajar’ dengan sang majikan. Selain itu, anak-anak mereka termasuk siswa-siswa berprestasi yang masuk di univirsitas ternama. Saat ditanya, bagaimana bisa menyekolahkan anak-anaknya? Ternyata mereka tidak mengeluarkan uang untuk biaya pendidikannya, karena anak-anaknya yang selalu mendapatkan beasiswa dari sekolah. “Otak itu adalah milik Allah,” ujar mereka.

See? Rezeki Itu Bukan Manusia. Manusia beribadah dan berusaha, Allah yang menentukan hasilnya ^_^

Warung Miza

4 thoughts on “Rezeki Bukan Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s