Mendengarkan Mereka

Menginjak usia 3 tahun 6 bulan, Miza mulai suka ngomong. Setiap kali dipancing untuk bercerita, dia pasti akan berbicara panjang lebar. Apa saja diceritakan, bahkan yang tidak nyambung dengan yang ditanyakan, juga diocehkan dengan ekspresi yang lucu. Seperti siang tadi, saya iseng bertanya kepada Miza, “Miza, Ummi kalau marah gimana?” hehehe… saya masih suka marah kalau Miza susah diberitahu. Dia langsung pasang ekspresi mata melotot hahahaha. Kami berdua pun tertawa bersama. ” Maaf, ya kalau Ummi marah.” Miza mengangguk sambil bilang, “Umi, gak boyeh mayah mayah. Miza pipis kama mandi.” Kenapa Miza menyinggung tentang pipis? karena saya sering ngomel kalau Miza kebelet pipis, tapi malah lari-lari keliling rumah sambil bilang mau pipis!! *OMG

Setiap kali ngobrol dengan Miza, saya menangkap ekspresi alis terangkat, mata berbinar, dan hasrat ingin menumpahkan apa yang ada dalam kepalanya meski dengan terbata-bata, karena keterbatasan kosa kata. Semangat yang sukses membuat saya ingin mendengarkan lebih dan lebih banyak lagi, apa yang dikeluarkan mulut mungilnya. Terkadang di sela-sela ngobrol, Miza berhenti sejenak, mencoba mencari kata yang tepat, tapi saking tidak tahunya, akhirnya yang keluar kata-kata tidak jelas. Saat ditanya, “Ngomong apa Miza?” Dia jawab dengan senyum malu. Gemeeezzz

Baru sore tadi, saya menemukan nasehat pengingat dari fanpage Fauzil Adhim, yang menyelipkan kegemaran ngobrol dengan anak.

Jika sekarang kita jarang berbincang dengan anak kita, bagaimana mereka akan senang berbincang dengan kita tatkala kita perlu teman ngobrol di usia senja? Jika sekarang kita enggan menemani mereka, bagaimana mungkin mereka kelak akan senang meluangkan waktu menemani kita saat lansia?

Jika kita senantiasa minta tolong pembantu untuk melayani mereka, jangan heran jika kelak mereka juga memanggil pembantu untuk menemani kita. Jika sekarang kita lebih banyak memberi uang daripada perhatian, jangan marah jika mereka hanya kirim uang saat kita merindukan mereka.

Saya bukan termasuk orangtua yang selalu menyediakan telinga setiap kali anak mengajak berbincang. Ada kalanya, anak menjadi manyun ketika ingin ngobrol, saya bilang, “sebentar,” dan sibuk dengan aktivitas atau telepon genggam. Atau, ketika anak bersemangat cerita, saya menanggapi seadanya karena lelah atau mengantuk. peluk Mas Miza

Menjadi orangtua adalah proses belajar seumur hidup, dan nasehat Ust. Fauzil Adhim, semoga menjadi pengingat saya untuk lebih maksimal menyediakan telinga untuk anak-anakku sayang.

5 thoughts on “Mendengarkan Mereka

    • Sinta Nisfuanna says:

      iya sangat penting, komunikasi yang intens bisa menumbuhkan kepercayaan anak kepada orang tua, dan semakin memperkuat rasa percaya diri mereka << kata buku😀

      semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s