Qur’an dan Tafsir: SURAT AN-NAS (Bag-1)

Senin, 20 Muharram 1437H / 2 November 2015

QURAN DAN TAFSIR
Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

BUNYI SURAT

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Pencipta, Pemberi Rizki, Pemelihara) manusia.

2. Malik (Raja) manusia.
3. Ilah (Yang diibadahi) manusia.
4. Dari kejahatan si pembisik (setan) yang biasa bersembunyi.
5. Yang membisikkan (kejahatan) di dalam dada manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Surat An-Nas termasuk surat makiyah menurut pendapat yang lebih kuat, diturunkan beriringan setelah surat Al-Falaq. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir bin ‘Asyur, 30/624, 631).

KEUTAMAAN

Telah disebutkan beberapa hadits tentang keutamaan Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq dalam pembahasan tentang surat Al-Falaq, silakan dilihat kembali.

http://www.iman-islam.com/2015/10/surat-al-falaq-bag-1.html
TEMA

Tema surat An-Nas adalah:

التَّحَصُّنُ وَالاِعْتِصَامُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَوَسْوَسَتِهِ

Berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dari kejahatan setan dan bisikannya.

AYAT 1, 2 dan 3

BERLINDUNG KEPADA RABB AN-NAS, MALIK AN-NAS, ILAH AN-NAS

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ

Hanya Allah rabb, malik, dan ilah yang sebenarnya.

Sesuatu yang disifati dengan rabb (pemelihara dan pendidik) belum tentu adalah malik (raja), dan tidak semua raja berhak untuk dijadikan ilah (yang diibadahi), maka kata malik dan ilah di sini dalam tinjauan bahasa Arab berfungsi sebagai ‘athaf bayan’ bagi kata rabb.

Maksudnya bahwa kedudukan kata malik dan ilah di dalam kalimat ini adalah athaf (sejajar) dengan kata rabb, sekaligus mengandung bayan (penjelasan tambahan) baginya.

Kata “rabb” lebih tampak kesan kelembutan dan pemeliharaannya, sedangkan kata “malik” kesan kekuasaan dalam memerintah dan melarang lebih dominan. Sementara kata “ilah” untuk menjelaskan bahwa hanya rabb dan malik yang hakiki saja, hanya rabb dan malik yang tak terbatas pemeliharaan dan kekuasaannya saja yaitu Allah subhanahu wata’ala, yang berhak untuk diberikan peribadatan, ketundukan mutlak dan permohonan perlindungan.

Kata Rabb mewakili sifat jamaliyah (keindahan) Allah subhanahu wata’ala, dan malik mewakili sifat jalaliyah (keagungan dan kewibawaan) Nya. Sedangkan kata ilah untuk menegaskan bahwa penggabungan sifat jamaliyah dan jalaliyah itu hanya milikNya sehingga hanya Dialah yang berhak diibadahi dan dimohonkan perlindunganNya.

Kata rabb, malik dan ilah ini disebutkan tanpa dipisahkan oleh huruf “waw” (dan) untuk menguatkan kesan kesatuan sifat-sifat ini pada Sang Pelindung yang menunjukkan kesempurnaanNya.

Kata an-nas (manusia) diulang tiga kali mengikuti ketiga sifat Allah tersebut – tidak menggunakan kata ganti – bertujuan:

  • Menunjukkan kemuliaan manusia di sisi Allah dibanding makhluk yang lain.
  • Menguatkan perasaan dekat manusia kepada Allah dengan ketiga sifatNya tersebut. Perasaan ini sangat dibutuhkan saat membaca surat dan doa perlindungan ini.
  • Bahwa kejahatan yang akan disebutkan dalam surat ini hanya menimpa manusia sebagai mukallaf (yang ditugaskan beribadah) karena ia terkait dengan kejahatan yang merusak keimanan, bukan kejahatan fisik yang bisa menimpa semua makhluk.

(Lihat: Nazhm Ad-Durar, Al-Biqa’i, 22/424-428; Mafatih Al-Ghaib, Ar-Razi, 32/376; Fi Zhilal Al-Quran, Sayid Quthb, 6/4010).

Ketiga sifat Allah ini – rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah – digunakan sekaligus untuk berlindung dari satu kejahatan saja. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya kejahatan yang satu ini.

Ayat 4

BERLINDUNG DARI KEJAHATAN SETAN DAN BISIKAN JAHATNYA

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Al-waswaas sebenarnya adalah isim (kata benda) yaitu bisikan jahat itu sendiri. (Mafatih Al-Ghaib, 32/377). Tetapi dalam hal ini difungsikan sebagai kata sifat yang menjadi julukan setan. Julukan ini disematkan untuk setan karena membisikkan keburukan adalah pekerjaan utamanya.

Di dalam bahasa Arab, penggunaan kata benda sebagai predikat atau julukan berguna untuk menunjukkan begitu melekatnya kata itu pada pihak yang mendapatkannya. Seperti ungkapan:

أَبُوْ بَكْرٍ هُوَ صِدْقٌ
Abu Bakar dialah kejujuran.

Untuk mengungkapkan kejujuran yang luar biasa pada diri Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, seolah-olah Abu Bakar adalah kejujuran itu sendiri.

Begitu pula setan yang dijuluki dengan al-waswaas atau bisikan jahat, seolah-olah setan adalah bisikan jahat itu sendiri karena melekatnya bisikan jahat itu sebagai perbuatan yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia.

Al-khannaas artinya yang bersembunyi dan mundur karena takut.

Ibnu Abbas radhiyallau ‘anhuma berkata:

الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، فَإِذَا ذَكَرَ اللَّهُ خَنَسَ

Setan itu akan menempel hati anak Adam. Jika ia lupa dan lalai, setan akan berbisik. Bila ia mengingat Allah, setan bersembunyi dan mundur. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/540; Az-Zuhd, Abu Dawud, hlm 295).

Begitulah tabiat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, saat para pendukung kebenaran kuat dan berpegang teguh kepada Allah, kebatilan akan mundur dan bersembunyi. Tetapi ketika para pendukung kebenaran melemah karena jumlahnya sedikit, atau banyak jumlahnya tapi lupa dengan misi mereka menegakkan kalimat Allah dan lalai dari mengingatNya, maka para pendukung kebatilan muncul dan menyebarkan bisikan sesatnya.

Dengan menyebut ketiga sifat Allah, kita berlindung kepadaNya dari kejahatan setan secara umum, dan dari bisikan jahatnya secara khusus.

Allah subhanahu wata’ala memberi julukan setan dengan julukan yang menggambarkan pekerjaannya yang paling membahayakan manusia yaitu memasukkan bisikan jahat berupa lintasan hati yang buruk.

Lintasan hati yang buruk adalah awal dari semua kemaksiatan dan kejahatan. Jika dibiarkan ia akan berubah menjadi ide, ide berkembang menjadi keinginan, keinginan yang semakin kuat akan menjelma menjadi tekad yang kemudian diwujudkan menjadi perbuatan maksiat. Perbuatan maksiat jika terus menerus dilakukan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya sulit untuk bertaubat darinya. Na’udzu billahi min dzaalik.

Ayat 5

BISIKAN SETAN DI DALAM DADA MANUSIA

Bersambung ke Qur’an dan Tafsir: SURAT AN-NAS (Bag-2)

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Web: http://www.iman-islam.com

 Pendaftaran: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

Sebarkan! Raih pahala…

One thought on “Qur’an dan Tafsir: SURAT AN-NAS (Bag-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s