TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

Rabu, 22 Muharram 1437H / 04 November 2015

MOTIVASI ISLAM
Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ. إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ. وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ (ص [38]: 45-47)

Artinya: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang terampil (punya tangan/ulil aidi) dan berwawasan luas (punya penglihatan/ulil abshar). Sesungguhnya Kami telah memilih mereka dengan kualifikasi mengingat negeri akhirat (dzikrad dar). Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik” (Shad [38]: 45-47).

MUKADIMAH:

Allah SWT. memiliki khazanah kisah menarik yang jumlahnya tak terhingga, sebanding dengan ketidak terhinggaan ilmu- Nya.

Dari sekian banyak kisah itu, Allah telah memilihkan untuk kita kisah-kisah terbaik dan paling menarik (ahsanal qashashi). Diantara kisah terbaik itu disebutkan dalam tiga ayat di atas, yaitu kisah Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub.

Tidak bisa dipungkiri manusia menyukai kisah.

Allah Mengetahui, karena Dia yang menciptakannya. Maka kisah-kisah dalam Alquran dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam diri manusia. Karena itu kisah merupakan satu dari sekian metode terbaik dalam pendidikan.

Alquran mengatakan: “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang cerdas” (Yusuf [12]: 111).

Kita wajib berusaha untuk pandai memetik pelajaran dari setiap kisah Alquran.

Dalam hal ini, Allah swt. menyebutkan tiga sifat unggulan dari manusia-manusia pilihan Allah itu, yaitu: terampil (ulil aidi), berwawasan luas (ulil abshar), dan selalu mengingat negeri akhirat (zikrad dar).

Nilai kita di hadapan Allah digantungkan pada kemampuh=an untuk melakukan proses internalisasi ketiga sifat itu.

Tujuannya agar nilai kita di sisi Allah mendekati keutamaan para nabi, meskipun tidak akan menyamainya. “Saddidu wa qaribu”, bertindaklah dengan tepat dan berupayalah untuk semakin dekat!
(Bukhari, 5/6099) demikian pesan al-habib Rasulullah saw.

TERAMPIL (ULIL AIDI):

Dalam bahasa Arab kata ulil aidi (punya tangan) digolongkan sebagai pendekatan metafora (majaz mursal).
Artinya bukan punya tangan dalam pengertian biasa, tetapi mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Hubungan makna ini dengan kalimat ulil aidi, karena biasanya orang berbuat dengan tangan. Dalam bahasa yang lugas, ulil aidi bisa diartikan terampil.

Agar kita bisa mengejar kualifikasi ulil aidi seperti Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, kita harus mengetahui ragam penafsiran para ulama tentang kalimat tadi.

Karena keragaman makna ayat bersifat saling melengkapi. Makna-makna itu dirangkum oleh Imam Al-Mawardi dalam tafsirnya (An-Nukat wal Uyun).

Keragaman makna itu sekaligus bisa dijadikan indikator dari ketercapaian kualifikasi terampil dalam diri kita.

1 Kemampuan Beribadah (Al-Quwwatu fil Ibadah):

Indikator pertama dari orang yang terampil adalah memiliki kemampuan untuk beribadah, demikian menurut Ibn Abbas. Kemampuan ini menjadi indikator pertama dari manusia unggulan, karena agama hakikatnya adalah ibadah, taat, serta tunduk kepada Allah swt.

Kemampuan beribadah kedudukannya lebih dari sekadar tahu dan mau.

Karena orang tahu dan mau belum tentu bisa melakukannya.
Betapa banyak orang yang mengetahui keutamaan bangun malam, tetapi tidak bisa melakukannya. Betapa banyak orang yang mau membiasakan wirid Alquran satu juz dalam sehari, tetapi tidak sanggup menjaga konsistensi tilawahnya karena alasan kesibukan dan lain-lain.

Orang yang terampil akan mampu menunaikan semua amal-amal fardu dengan sebaik-baiknya.

Mampu menyempurnakan salat, puasa, zakat, dan haji. Mampu melakukan amal-amal nafilah (sunah), baik yang sejenis fardu seperti: salat sunah, puasa sunah, infak dan sedekah, serta umrah; atau amal-amal sunah lainnya.

Orang yang mampu menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan ditambah dengan ibadah-ibadah sunah akan membuatnya menjadi wali-wali Allah swt.

Dalam hadits qudsi dikatakan:

“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah. Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi..” (Bukhari, 5/6137).

Bersambung ke TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-2)

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Web: http://www.iman-islam.com

Pendaftaran: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

Sebarkan! Raih pahala…

One thought on “TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s