Hukum Bai’ Ad-Dayn /Jual Beli Piutang. (Bag-1)

Jumat, 10 Muharram 1437H / 23 Oktober 2015

FIKIH MUAMALAH
Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc., MAg.

BAI’ DAYN.

Dalam transaksi muamalah dewasa ini, terkadang ditemui transaksi berupa jual beli piutang, seperti ketika seseorang yang memiliki piutang, lalu ia menjual piutang nya tersebut kepada orang lain. Atau dalam kasus lembaga keuangan syariah, ketika suatu  LKS akan menjual asset pembiayaannya kepada LKS yang lainnya, maka bagaimanakah hukumnya?

Berikut kami simpulkan dari beberapa referensi, utamanya dari Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Al-Zuhaily.

Syekh Wahbah Zuhaily memberikan pembahasan tentang bai’ ad-dain ( بيع الدين ) sebagai berikut  (4/432): 

1. Menjual piutang dengan hutang ( بيع الدين نسيئة )

Dalam fiqh transaksi seperti ini dikenal dengan sebutan bai’ ad-dayn by ad-dayn atau dalam hadits disebut bai’ al-kali bil kali ( بيع الكاليء بالكاليء ). Bentuk transaksi jual beli seperti ini adalah dilarang secara syariah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ (رواه النسائي في الكبرى والحاكم والدارقطني)
Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang. (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim)[1]

Menjual piutang dengan hutang, bisa terjadi dalam dua bentuk :

a. ( بيع الدين للمدين ) Menjual piutang kepada orang yang berutang tersebut

Yaitu seperti seseorang yang berkata kepada orang lain,

  • Saya beli dari kamu satu mud gandum dengan harga satu dinar dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan.’
  • Atau seseorang membeli barang yang akan diserahkan pada waktu tertentu lalu ketika jatuh tempo, penjual tidak mendapatkan barang untuk menutupi utangnya, lantas berkata kepada pembeli, ‘Juallah barang ini kepadaku dengan tambahan waktu lagi dengan imbalan tambahan barang’. Lalu pembeli menyetujui permintaan penjual dan kedua belah pihak tidak saling sarah terima barang.

Cara seperti ini merupakan riba yang diharamkan, dengan kaidah

‘berikan tambahan waktu dan saya akan berikan tambahan jumlah barang.’ ( زدني في الأجل وأزيدك في القدر )

b.( بيع الدين لغير المدين )  Menjual piutang kepada orang lain yang bukan orang yang berhutang.

Hal ini seperti seseorang berkata kepada orang lain, ‘Saya jual kepadamu  20 mud gandum milikku yang dipinjam oleh fulan dengan harga sekian dan kamu bisa membayarnya kepadaku setelah satu bulan.’

Maka transaksi jual beli seperti ini juga termasuk transaksi yang tidak diperbolehkan.

 2 Menjual piutang dengan tunai pada saat transaksi. ( بيع الدين نقدا في الحال )

Hukum menjual piutang dengan tunai diperselisihkan oleh ulama tentang hukumnya…

Bersambung ke Hukum Bai’ Ad-Dayn /Jual Beli Piutang (Bag-2)

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Web: http://www.iman-islam.com

Pendaftaran: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

Sebarkan! Raih pahala…

One thought on “Hukum Bai’ Ad-Dayn /Jual Beli Piutang. (Bag-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s