πŸ“ Kuasai Medan, Waspadai Makar Kawan ! (Pertemuan ‘Ayn Jalut – September 1260) bag-1

πŸ“† Kamis, 1 Safar 1437H / 12 November 2015

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Pertempuran Ain Jalut (dalam Bahasa Arab:ΨΉΩŠΩ† Ψ¬Ψ§Ω„ΩˆΨͺ) yang artinya “Mata Air Jalut/Goliath” mempertemukan antara pasukan Muslim dari bangsa Mamluk melawan bangsa Mongol di sebelah tenggara Galilee. Lokasinya berada di lembah Jezreel tidak jauh dari desa Zir’in. Pertempuran ini menandai titik terjauh invasi Mongol ke arah barat-daya sekaligus untuk pertama kalinya mereka terhenti secara permanen.

Pada umumnya kekalahan ini ditimpakan kepada wafatnya Khagan MΓΆngke Khan yang tiba-tiba. Sebuah kejadian yang memaksa Hulagu Khan sebagai pemimpin Ilkhanate Mongol untuk menarik sebagian besar pasukan intinya kembali ke Mongolia. Keadaan ini mengakibatkan Kitbuga berangkat perang dengan pasukan seadanya dalam jumlah yang sedikit untuk standar Mongol saat itu.

Kejadian Sebelumnya

Ketika MΓΆngke Khan menjadi pemimpin bangsa Mongol pada tahun 1251 ia meneruskan cita-cita kakeknya (Genghis Khan) untuk menguasai dunia. Untuk menaklukkan wilayah barat ia mempercayakan kepada saudaranya yang bernama Hulagu Khan. Dibutuhkan 5 tahun untuk mengumpulkan kekuatan itu sehingga Hulagu baru bergerak pada tahun 1256 dari basis kekuasaannya di Persia. Ia mendapat mandat untuk memperlakukan secara wajar atas lawan yang menyerah dan menghancurkan mereka yang melawan. Ketika ia sampai ke kota Baghdad, balatentaranya sudah meliputi bangsa Armenia asal Cilicia dan bahkan pasukan Frank dari Kerajaan Antioch yang tunduk kepadanya.

Sekte Hashsasin di Persia jatuh ke tangan Hulagu, ibukota dan kekuatan Daulah ‘Abbasiyah yang berumur 500 tahun juga dihancurkannya, dan sisa Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus juga menyerah. Rencana besar Hulagu adalah untuk terus maju menembus Kerajaan Latin di Jerusalem hingga ke perbatasan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Utusan Mongol ke Mesir

Pada tahun 1260, utusan Hulagu menyampaikan pesannya kepada Sultan Qutuz di Kairo untuk segera menyerah dengan surat yang berbunyi:

“Dari raja diraja dari timur dan barat, Khan yang Agung, kepada Qutuz dari Mamluk yang luput dari tebasan pedang kami.

Engkau harusnya belajar dari apa yang dialami negeri-negeri lain dan sepantasnya tunduk kepada kami. Engkau tentu telah mendengar bagaimana kami menaklukan wilayah yang sangat luas untuk membersihkannya dari kotoran dunia yang mencemari. Kami telah membantai banyak negeri dan engkau tidak mungkin meloloskan diri dari kebengisan pasukan kami. Hendak lari kemana dan menggunakan jalan mana dari menghindari kami?

Kuda perang kami sigap, panah kami tajam, pedang kami seperti halilintar, hati kami seteguh gunung, dan pasukan kami sebanyak pasir di pesisir. Benteng manapun tidak akan mengungkung maupun menghentikan pasukan kami. Kami tidak tersentuh dengan tangisan maupun ratapan. Hanya mereka yang memohon perlindungan kami yang akan selamat.

Segerakan balasanmu sebelum api perang menyala. Melawan lah maka engkau akan merasakan kemalangan yang besar. Kami akan meremukkan masjid-masjidmu serta menunjukkan kelemahan tuhanmu lalu kami akan menghabisi anak-anak serta orangtuamu. Sekarang ini hanya engkau musuh yang harus kami datangi.”

Sultan Qutuz membalasnya dengan membunuh utusan Hulagu itu lalu melepaskan kepalanya untuk dipasang di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang benteng kota Kairo.

Pergantian Kekuasaan Mongol

Hulagu terpaksa pulang ke Mongolia bersama sebagian besar pasukan utamanya karena ia merupakan calon penerus potensial dalam suksesi kepemimpinan. Ia hanya menyisakan 1-2 tumen (kesatuan balatentara Mongol) sekitar 10-20 ribu personil atau sekitar satu divisi tentara modern. Ia meletakkan kepemimpinan sementara pada jenderal kepercayaannya yang bernama Naiman Kitbuqa Noyan; Kitbuqa beragama Kristen Nestorian.

*Sultan Qutuz Bergerak

Mendapatkan berita kepulangan Hulagu, Sultan Qutuz dari Mamluk segera memobilisir balatentaranya di Kairo dan segera bergerak masuk wilayah Palestina. Pasa akhir bulan Agustus, Kitbuqa membawa pasukannya menuju wilayah selatan melintasi sebelah timur Danau Tiberias menuju Galilee selatan dari basisnya di kota Baalbek.

Sultan Qutuz bersekutu dengan pemimpin Mamluk lainnya yang bernama Baibars yang juga bermusuhan dengan Mongol karena telah merebut kota Damaskus dan sebagian besar region Syam dari tangannya.

*Turbulensi Aliansi Mongol-Frank

Kekuatan Mongol telah mencoba menundukkan wilayah kerajaan Latin di Syam dan bahkan memberikan sinyal positif untuk sebuah aliansi. Namun, ide aliansi ini ditentang keras oleh Paus Alexander IV. Kerajaan-kerajaan kecil bekas wilayah Pasukan Salib di beberapa kota pesisir Syam mendapatkan tawaran untuk bergabung baik dari pihak Mongol maupun Mamluk.

Walaupun bangsa Mamluk merupakan seteru lama bangsa Frank, namun para pemimpin Pasukan Salib menyadari bahwa Mongol adalah ancaman yang lebih besar. Untuk melihat perkembangan maka sebagian besar dari mereka memilih untuk tetap netral. Bahkan balatentara Mamluk tidak mengalami pencegatan ketika mendekati wilayah Franks; bahkan di kota Acre mereka dapat membeli logistik dan beristirahat. Ketika datang kabar bahwa Mongol telah menyeberangi sungai Jordan, maka Sultan Qutuz bergegas menuju arah tenggara guna mencegatnya.

Bersambung ke Kuasai Medan, Waspadai Makar Kawan ! (Pertemuan β€˜Ayn Jalut – September 1260) bag-2

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

🌼Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

– Twitter: @GrupMANIS
– Web: http://www.iman-islam.com

πŸ“ Pendaftaran: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s