too-many-books

Kisah Antara Aku dan Buku: Saya dan Becky Bloomwood

giveaway-aku-dan-buku

Tau Becky Bloomwood? Karakter besutan Sophie Kinsella dalam serial Shopaholic yang pernah divisualkan dalam film dengan judul yang sama dengan seri pertamanya. Sedikit bercerita untuk yang belum tahu karakter penggila belanja yang satu ini. Becky, perempuan yang tergila-gila dengan barang branded dan tidak akan ragu untuk menguras isi dompet demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Gelar shopaholic alias pemboros kelas wahid sudah merekat erat dalam sosok Becky. Hanya dengan alasan ingin, apa yang menjadi sasaran mata harus segera termiliki. Intinya, LAPER MATA! Meski profesi Becky—Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis keuangan yang seharusnya pandai dalam mengelola keuangan, ternyata sama sekali tidak berpengaruh dengan caranya mengelola kartu kredit yang selalu jebol.

Nah, melihat dari sosok Becky, saya pernah berada di posisinya tapi berbeda obyek. SAYA KERANJINGAN BELANJA BUKU. Persamaan kami adalah sama-sama kesulitan meredam keinginan setiap kali melihat barang yang diinginkan. Beruntung, saya tidak sampai mempunyai kartu kredit, kalau punya, bisa dipastikan akan penuh dengan tagihan belanja buku.

Bagi saya, buku selalu tampak SANGAT menggiurkan. Aktivitas membaca sendiri sudah lama saya gandrungi, apalagi sejak Perpustakaan Kota Malang memiliki koleksi buku yang lebih beragam dan penampakannya tidak lagi terlihat seperti gedung tua. Hampir seminggu sekali, di sela-sela tugas kampus yang padat, saya akan menyambangi perpustakaan demi memenuhi hasrat membaca. Saat itu keinginan belanja buku sudah ada, hanya saja kondisi keuangan yang masih menumpang pada orangtua tidak memungkinkan untuk memiliki buku.

Kegilaan belanja buku muncul saat mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Apalagi, saat itu domisili di Bandung dengan toko bukunya yang sering mengadakan book sale, sudah pasti membuat saya ngiler. Jangan ditanya lagi ke mana uang saya lari setiap kali gaji diterima. BUKU. Alasan untuk membeli buku selalu ada, sinopsis bagus, atau desain sampul keren, atau setting tempat okeh, atau sejarahnya asyik, atau … duh! banyak wes. Dan uang pun akan mengalir dengan derasnya saat barang yang digilai terpampang di depan mata, belum lagi jika dipermanis dengan kata “SALE/DISKON”

Segala alasan dibenarkan kami berdua, Becky rela menggesek kartu kreditnya, meski sudah melewati limit, dan saya setia mampir ke ATM, meski tabungan udah sekarat. Salah satu alasan yang mempertahankan kebiasaan buku kami adalah menganggap apa yang dibelanjakan ini menjadi semacam investasi. Investasi masa depan, apalagi bagi saya, buku mempunyai predikat sebagai jendela dunia. Pembenaran. Lagi-lagi pembenaran tanpa melihat kemampuan baca atau kebutuhan lainnya. Alasan investasi mungkin bisa dibenarnya jika di kemudian hari ada cita-cita membuka perpustakaan pribadi, tapi kalau hanya untuk menambah koleksi pribadi, sedangkan buku yang lainpun masih terbengkalai?

Sampai saat ini sebenarnya saya belum sembuh betul dari ‘penyakit’ belanja buku. Jika dulu, hampir segala macam buku yang menarik, rekomendasi teman, atau obral langsung mendapat tempat di rak. Sekarang, jenis bacaan dan ulasan buku menjadi pertimbangan setiap kali berbelanja buku. Memilah-milih buku menjadi salah satu alternatif untuk memprioritaskan jenis buku apa yang dibeli. Inipun ternyata masih menjadi penyebab rumah dipenuhi buku. Butuh motivasi lebih untuk bisa mengerem belanja buku saya dan segalanya selalu bertahap. Pembenaran lagi!😛

Beberapa saat yang lalu teman sesama pecinta buku memposting How To: Membuat Prioritas dalam Membeli Buku. Setiap kali dia menginginkan atau tertarik dengan sebuah buku, maka akan dimasukkan ke kategori-kategori tertentu. Dia mengategorikan buku dengan status harus punya, cari murah/seken, cari pinjaman, atau cari gratisan. Jadi, prioritas belanja buku hanya dilakukan untuk kategori harus punya dan cari murah/seken. Sepertinya, saya juga membutuhkan tips tersebut supaya pengeluaran buku bisa lebih terkendali. Selain itu, acara cuci mata buku, baik offline atau online, harus dikurangi.

Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

4 thoughts on “Kisah Antara Aku dan Buku: Saya dan Becky Bloomwood

    • Sinta Nisfuanna says:

      iya, promonya gila-gilaan… meski sekarang gak bisa ke mana-mana, tapi toko online juga seperti balapan ngasih obralan buku😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s