Miza, Azi dan Uang Jajan

Njajan adalah aktivitas yang pasti disukai anak-anak, termasuk Miza (5 th) dan Azi (3 th). Dulu, setiap kali ada tukang jajanan lewat atau ada temannya jajan, Miza dan Azi akan bersegera meminta uang untuk membeli jajan. Lama kelamaan, tekor juga Umminya. Akhirnya, kami putuskan untuk menjatah uang jajan setiap hari. Sementara ini karena Miza dan Azi masih belum ada yang sekolah, setiap pagi sepulang mengaji, mereka akan menerima Rp. 2.000/anak, dan sore hari setelah mandi, kembali menerima Rp. 2.000/anak.

Awalnya membiasakan anak membeli jajan sesuai jatah, lumayan susah. Rengekan dan tangis akan muncul saat mereka ingin jajan tapi jatah uangnya sudah habis. Tega-tegain, sudah pasti, yang penting perut mereka sudah kenyang dengan makan karena terkadang mereka ingin jajan karena ikut-ikutan temannya.

uang-dan-anak

Sumber: Selipan.com

Selama proses menjatah uang jajan, beberapa hal yang sering kami sampaikan kepada mereka, meski tidak sekaligus, adalah alasan-alasan kenapa uang jajan harus dijatah, salah satunya memahamkan Miza dan Azi bahwa uang orangtua mereka harus dialokasikan ke beberapa hal.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa mereka masih terlalu kecil untuk mengerti alasan tersebut. Tapi, prinsipnya saat menerapkan sesuatu pada anak, harus ada penjelasan, saat membolehkan/tidak membolehkan sesuatu, juga harus ada alasan, karena itu adalah hak mereka. Meski tidak bisa hanya sekali-dua kali, minimal perlakuan tersebut juga bisa mengajak mereka berpikir.

Selain itu, dengan menjatah uang jajan, Miza dan Azi harus belajar mempertimbangkan apa yang ingin dibeli dengan uang yang diterima. Semisal, saat sore terkadang mereka suka membeli siomay, jadi sebelum memberikan uang jajan, saya bertanya, ‘uangnya mau buat jajan atau beli siomay?” Pilihan tergantung mereka, kalau memilih membeli siomay, maka uangnya disimpan sampai tukang siomay lewat, kalau memilih jajan, uang saya serahkan dengan pesan, ‘berarti nanti kalau ada tukang siomay gak bisa beli ya.”

2798-berapa-sih-uang-saku-yang-pas-untuk-anak

Sumber: tabloidnova.com

Kebiasaan kami menjatah uang jajan, masih perlu dikembangkan dan salah satu tulisan dari Prita Hapsari Ghozie adalah seorang perencana keuangan independen, tentang Uang Saku menjadi referensi menarik, apalagi jika anak sudah menginjak usia 6 tahun atau memasuki Sekolah Dasar. Poin menabung masih belum terlalu ketat diterapkan pada Miza dan Azi, meski mereka mempunyai celengan yang setia menunggu diisi๐Ÿ˜›

Hal terakhir dan paling utama yang perlu dipahami Mommies dalam menerapkan konsep di atas adalah peran aktif orang tua untuk memberikan contoh dan berkomitmen dengan peraturan yang telah disepakati bersama si kecil.ย 

Kalimat penutup di artikel Bu Prita Hapsari memang penting untuk digenggam, tentang komitmen orangtua saat menerapkan peraturan tertentu, selama aturan memberi manfaat baik, terutama bagi anak.

9 thoughts on “Miza, Azi dan Uang Jajan

  1. tuaffi says:

    saya juga rencananya kalau diberi buah hati nanti uang jajannya dijatah. selain untuk melatih mengatur uang, ya supaya nggak boros kayak ibu bapaknya.๐Ÿ˜€

  2. dearlangit says:

    Saya setuju. Anak-anak perlu dikasi penjelasan logis atas suatu larangan yang diberikan kalo nggak mereka susah menerimanya. Dan memang perlu beberapa kali diberi tahu supaya tersimpan dalam memorynya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s